Apa sih kodrat menjadi seorang wanita itu?
Bismillah...
Assalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh... akhi wa ukhti fillah...
Kali ini saya akan sharing mengenai "Apa sih kodrat menjadi seorang wanita?"
Beberapa waktu yang lalu saya pernah bertanya kepada
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com), dan jawaban beliau sebagai berikut:
Assalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh... akhi wa ukhti fillah...
Kali ini saya akan sharing mengenai "Apa sih kodrat menjadi seorang wanita?"
Beberapa waktu yang lalu saya pernah bertanya kepada
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com), dan jawaban beliau sebagai berikut:
Menyamakan wanita dengan
lelaki, jelas kedzaliman. Karena dua makhluk ini memang Allah ciptakan berbeda.
Allah menegaskan,
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى
“Laki-laki tidak sama seperti
wanita.” (QS. Ali Imran: 36).
Di sana ada banyak kelebihan yang
Allah berikan kepada lelaki, yang tidak dimiliki oleh wanita. Baik dari sisi
fisik maupun non fisik.
Akan tetapi, jangan lupa, pada
beberapa keadaan, posisi wanita sangat menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan
hidup dirinya atau orang lain. Berikut diantaranya,
Pertama, sebelum menikah, wanita adalah palang pintu surga bagi
orang tuanya.
Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى
تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Siapa yang menanggung nafkah dua
anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti
ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya.”
(Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).
Dalam riwayat lain,
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu
‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ
فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ
كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang memiliki 3 anak
perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil
usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib
al-Arnauth).
Kedua, setelah menikah, suami menjadi palang pintu surga bagi
wanita
Dalam hadis dari Abdurrahman bin Aur
radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا
وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا
ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila wanita shalat 5 waktu,
puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka
disampaikan kepadanya: Silahkan masuk surga dari pintu manapun yang kamu
inginkan.” (HR. Ahmad 1683 dan dihasankan
Syuaib al-Arnauth)
Lebih tegas lagi disebutkan dalam
hadis dari Hushoin bin Mihron, bahwa bibinya mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan masalahnya. Selesai urusannya, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki suami?”
Si bibi menjawab: “Ya”.
Nabi bertanya lagi, “Bagaimana kedekatanmu
dengannya?”
Si bibi menjawab, “Aku berusaha
keras untuk taat kepadanya, kecuali untuk pekerjaan yang tidak mampu aku
lakukan.”
Beliaupun bersabda:
انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ،
فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Lihatlah bagaimana kedudukanmu di
sisinya. Karena sesungguhnya suamimu itu pintu surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad 19003, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
Ketiga, setelah memiliki anak, wanita adalah pintu surga bagi
anaknya
Dari Jahimah as-Salami radhiyallahu
‘anhu, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya Rasulullah, saya ingin ikut
berjihad. Saya datang untuk meminta penndapat kepada Anda.” Tanya Jahimah.
“Apakah kamu punya ibu?” tanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Ya, masih ada.” Jawab Jahimah.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab,
فالزمها، فإن الجنة تحت قدميها
Selalu dampingi ibumu, karena surga
di bawah kaki ibumu. (HR. Nasai 3117, Baihaqi dalam
Syuabul Iman 7833 dan dishahihkan al-Albani).
Karena itulah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kebaktian anak kepada ibunya lebih
besar dari pada kebaktiannya kepada ayahnya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
menceritakan,
Ada orang yang datang kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan bertanya,
“Siapa manusia yang paling berhak
untuk saya sikapi dengan baik?” tanya sahabat,
“Ibumu.” Jawab Nabi.
“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.
“Ibumu.” Jawab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.
“Ibumu.” Jawab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.
“Lalu ayahmu.” Jawab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
(HR. Bukhari 5626 & Muslim
6664).
Keempat, karena kecantikannya, wanita sangat menarik pandangan kaum
lelaki. Karena itu, dengan daya tariknya, wanita bisa menjadi sumber dosa bagi
lelaki.
Dalam hadis dari Usamah Bin Zaid radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً
أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu godaan
pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari 5096 dan Muslim 2740).
Untuk itulah, Allah perintahkan
kepada para wanita agar lebih banyak berdiam di rumah dan tidak suka keluar
rumah. Rumah adalah hijab yang paling syar’i bagi waita. Allah berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا
تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Menetaplah di rumah kalian dan
jangan tabarruj seperti tabarrujnya orang jahiliyah.” (QS. al-Ahzab: 33).
Allah gandengkan perintah untuk
menetap di rumah dengan larangan tabarruj. Karena umumnya, ketika wanita
mulai senang keluar rumah maka dia akan melakukan tabarruj.
Itu artinya, ciri wanita solihah di
sisi Allah, bukan mereka yang aktif keluar rumah, tapi mereka yang lebih aktif
di dalam rumah.
Kelima, karena kedekatannnya dengan anak, ibu adalah madrasah bagi
putra putrinya.
Merekalah akan membentuk generasi.
Para ulama menyebutkan,
الأم صانعة الأجيال
“Ibu adalah pencetak generasi.”
Karena dia memiliki peran terbesar
dalam mendidik anak.
Simaklah, di sana ada Ibunda Imam
as-Syafii. Beliau menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin,
“Aku tumbuh sebagai seorang yatim di
bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada
guruku (untuk upah mengajar). Dan ketika itu guruku merasa cukup dengan hanya
aku menggantikannya apabila ia pergi. (sebagai ganti upah ngajar).”
Beliau juga mengatakan: “Aku tidak
memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.”
Setelah tinggal beberapa lama untuk
membesarkan Syafi’i kecil di daerah Ghazah, ‘Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam
asy-Syafi’i membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafi’i memasukkan Syafi’i
kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafi’i keturunan
kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an hingga berhasil
menghafal seluruh al-Qur’an pada usia tujuh tahun.
Di sana ada ibunda Imam Ahmad, yang
ayahnya meningga ketika Ahmad masih kecil.
Imam Ahmad bercerita, “Ibu-ku yang
menuntun diriku hinggal aku hafal al Qur’an ketika masih berusia 10 tahun. Dia
selalu membangunkan aku jauh lebih awal sebelum waktu shalat subuh tiba,
memanaskan air untukku karena cuaca di Baghdad sangat dingin, lalu memakaikan
baju dan kami pun menunaikan shalat tahajud semampu kami.”
Usai menunaikan shalat malam, sang
ibu pergi ke masjid dengan mengenakan cadar untuk menunaikan shalat shubuh
bersama Ahmad semenjak beliau berusia 10 tahun. Sejak pagi hingga tengah hari,
Imam Ahmad terus diajari ilmu pengetahuan oleh sang ibundanya.
Ibunda Ahmad pernah berpesan, “Anakku,
pergilah untuk menuntut ilmu Hadis karena hal itu adalah salah satu bentuk
hijrah di jalan Allah!”
Sang ibu mengemas seluruh keperluan
sang anak dalam perjalanan, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah jika dititipi
sesuatu, Dia akan selalu menjaga titipan tersebut. Jadi, aku titipkan dirimu
kepada Allah yang tidak akan membiarkan titipannya terlantar begitu saja.’
Sejak itulah, Imam Ahmad pergi dari
sisi sang ibunda tercinta menuju kota Madinah, Makkah dan Shan’a’. Akhirnya,
beliau kembali dengan menyandang gelar Sang Imam.
Sekalipun wanita gerakannya lebih
terbatas, namun mereka menentukan kualitas generasi penerus umat…
Allahu a’lam.
So, masih mau menentang kodrat kita sebagai wanita ukh? Atau memperlakukan wanita seperti laki-laki akh? dengan berdalih kesetaraan gender? Yuk taat pada aturan Islam yang syar'i.
Semoga bermanfaat ^_^

Komentar
Posting Komentar